| Tips #4: Quantum Genius |
|
| Ditulis oleh Administrator | ||||||
| Selasa, 06 Oktober 2009 01:17 | ||||||
|
Buatlah materi yang abstrak menjadi nyata
Mengapa matematika menjadi pelajaran yang paling ditakuti siswa? Banyak pelajaran seperti matematika, menawarkan tantangan ekstra bagi siswa yang merupakan seorang prosesor konkret. Jika anda menciptakan gambaran yang unik dan nyata untuk menjelaskan konsep, konsep itu langsung berubah dari abstrak menjadi konkret, sehingga lebih mudah dimengerti.
Misal: bagaimana cara menjelaskan kepada anak-anak SD, perbedaan keliling dan luas lingkaran? Caranya cukup mudah. Mintalah anak-anak membawa biji kacang hijau. Lalu buatlah gambar lingkaran di kertas gambar. Tata biji tadi di sekitar garis lingkaran tersebut. Itulah keliling lingkaran. Sekarang taburkan semua biji didalam lingkaran sampai penuh. Itulah luas lingkaran. Dengan cara begini, terciptalah gambar di visual cortex otak mereka. Dan sang anak sekarang telah memahami bedanya keliling dan luas lingkaran secara kasat mata.
Saat saya ceritakan metode Quantum Genius ini ke peserta, beberapa mereka nampak kurang begitu senang. “Wah repot pak kalau mau mengajar saja harus putar otak dulu dengan metode yang sesuai dengan materi yang mau disampaikan. Saya tidak punya banyak waktu. Gunakan cara yang mudah dan gampang saja pak.” Saya tidak menyalahkan keluhan salah satu guru tersebut. Untuk menjawab masalah ini, di salah satu sesi, saya mengajak para peserta bermain peran dalam sebuah permainan yang menyenangkan. Lalu mendiskusikan apa yang mereka alami selama proses permainan tadi.
Supaya lebih jelas, saya kasih contoh nyata sewaktu pelatihan Best Camp di Gorontalo di awal tahun bersama dr. Fadly Noor & Ronal Hutagalung. Saat saya memberi sesi Power Personality, saya mengajak para guru beraktivitas. Mereka dibagi dalam kelompok dan mendesain busana daerah dari daun, ranting pohon serta bahan disekitar tempat itu. Baju juga harus diperagakan oleh seorang model. Dan ruang training menjadi ramai karena aktivitas peserta yang berlomba dalam permainan tsb. Dari aktivitas tsb, ada banyak insight yang ditemukan,terutama saat berinteraksi dengan sesama peserta. Para peserta mengenal karakter secara langsung dalam aktivitas permainan tadi. Dan juga merasakan apa yang terjadi bila karakter yg bertolak belakang saling bersinggungan.
Di akhir sesi, lalu saya tanya ke peserta, “Apakah anda senang dalam sesi ini?” Dengan serentak mereka menjawab, “Happy banget pak”. Bila cara seperti ini menyenangkan bagi para guru, tentu saja layak juga di praktekkan bagi para siswa di ruang kelas.
Lalu bagaimana caranya menyajikan materi menjadi nyata bagi siswa atau audiens? Anda perlu menghadirkan esensi dan manfaat nyata apa yang anda ajarkan dan aplikasinya bagi kehidupan atau masa depan mereka nantinya. Jika materi tsb punya esensi dan punya arti yg jelas bagi siswa secara pribadi, otak mereka akan mengkategorikan informasi tsb penting bagi dirinya. Dan bila otak telah menganggap sesuatu itu penting bagi hidup, maka akan diprioritaskan untuk disimpan di memori jangka panjang. Kuncinya: Jika ada niat positif, selalu ada jalan untuk menciptakan hal-hal yang kreatif dan menarik. Selamat mencoba.
Salam Excellent, Markus Tan
Powered by Bestcamp 1.0
1.0 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |



